Garis Tegas Separasi

Kompleksitas masalah separasi ini adalah tidak adanya garis pembatas/separator yang tegas membedakan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Sehingga sepanjang sejarah, separasi menjadi topik yang tidak pernah selesai diperdebatkan. Bahkan seringkali menjadi perdebatan kosong yang tidak ada ujungnya.

Semua perdebatan akan menjadi sia-sia jika tidak ada patokan, standar ukur yang jelas, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Suatu garis separator yang tegas dan konsisten.

Seharusnya segala patokan standar kehidupan kekristenan adalah Alkitab saja. Dari alkitab sajalah kita mengerti perlunya separasi. Dan seharusnya dari Alkitab pula kita mengambil garis separator yang tegas dan konsisten.

2Korintus 6
13. Maka sekarang, supaya timbal balik–aku berkata seperti kepada anak-anakku–:Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!
14. Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
15. Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?
16. Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.
17. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
18. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.

Keluar! Pisahkan dirimu dari kesalahan dan penyesatan!

Dari sini kita bisa menarik satu garis tegas separasi, yaitu dengan menjawab pertanyaan:

“Apakah saya atau anak-anak dibawah tanggung jawab saya sudah memisahkan diri? Ataukah saya atau anak-anak dibawah tanggung jawab saya ikut terlibat didalam dosa/kesalahan/kesesatan?”

Dari sini ada satu garis tegas separator dan konsisten untuk menjawab (hampir?) semua masalah separasi. Bahkan bisa dengan mudah menjawab orang-orang Farisi yang mempertanyakan separasi Yesus dari orang-orang berdosa, yaitu bahwa Yesus tidak pernah dalam hal apapun terlibat dalam dosa atau kesesatan orang lain.

Update:

Tanpa garis separasi yang jelas tegas dan konsisten, maka yang pasti terjadi adalah kompromi dan pergeseran. Apa yang harini tidak boleh, barangkali dalam waktu 50-100 tahun akan terjadi pergeseran dan bisa menjadi boleh, karena memang tidak ada garis tegas yang tidak boleh dilanggar, tidak ada konsistensi.

Tidak hanya di mimbar, atau hanya di gedung gereja, atau hanya di rumah saja.
Konsep separasi yang jelas harus bisa diterapkan dengan konsisten, separasi tanpa batas ruang, tempat ataupun waktu.
Di kantor, di tempat parkir, di mall, dimanapun juga kita berada, kapanpun juga.

Coming next: Termasuk juga dengan mudah menjawab separasi parachurch, benarkah parachurch terbuka untuk umum sebebas-bebasnya tanpa batasan? Adakah/perlukah garis tegas separasinya?

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s