Tiga Macam Durhaka / Penyelewengan

durhaka/dur·ha·ka/ a 1 ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya); 2 tidak setia kepada kekuasaan yang sah (negara);

durhaka bisa diringkas dalam tiga kata ini: ingkar, melawan, menyeleweng

Alkitab, satu-satunya Firman Tuhan yang Maha Kudus mengajarkan moral TERTINGGI yang pernah diajarkan sepanjang masa! Dan ada tiga macam durhaka yang Tuhan catatkan dan peringatkan dengan keras agar tidak dilakukan manusia dan bahkan memberikan Undang-Undang Dasar Israel (Taurat) yang mengharuskan pelanggaran ini untuk dirajam (dilempari batu) hingga mati.

1. Durhaka terhadap orang tua

Durhaka ini yang paling dikenal manusia dan sangat amat ditekankan dalam pengajaran moral manusia. Karena ini mendurhakai manusia juga, sehingga manusia berkepentingan berusaha sangat keras mengajarkan hal ini. Selain manusia sendiri merasakannya, ini pun berakibat kepada masa depan manusia itu sendiri, selama hidupnya didunia ini.

Alkitab sangat menekankan pentingnya hal ini dan memberikan perintah yang sangat tegas untuk menghukum anak durhaka dengan dirajam (dilempari batu) hingga mati.

Ulangan 21:
18. “Apabila seseorang mempunyai anak laki-laki yang degil dan membangkang, yang tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya dan ibunya, dan walaupun mereka menghajar dia, tidak juga ia mendengarkan mereka,
19. maka haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang tempat kediamannya,
20. dan harus berkata kepada para tua-tua kotanya: Anak kami ini degil dan membangkang, ia tidak mau mendengarkan perkataan kami, ia seorang pelahap dan peminum.
21. Maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu; dan seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut.”

Tetapi seringkali karena terlalu sangat ditekankan oleh agama-agama rekayasa manusia, bahkan sangat amat berlebihan, bisa menyebabkan dan menimbulkan kedurhakaan lainnya.

2. Durhaka terhadap pernikahan

Durhaka/penyelewengan yang satu ini lebih sering disebut sebagai: zinah.

Konon, katanya, pelacuran adalah profesi tertua dan telah ada hampir bersamaan dengan keberadaan manusia. Dan, walaupun manusia mengerti moral yang baik dan diatas kertas melarang pelacuran, tetapi hal ini tetap menjadi penyakit masyarakat yang terus semakin berkembang.

Tetapi, banyak bentuk penyelewengan dan kedurhakaan terhadap pernikahan yang tidak disadari oleh banyak manusia, terutama akibat banyaknya pengajaran agama duniawi yang ikut terlibat merusak moral ini dari segala sisi.

Beberapa standar moral tertinggi yang Tuhan tetapkan untuk pernikahan adalah:

  • Bahkan menginginkan saja sudah dicatat Tuhan sebagai zinah. Mat 5:28
  • Tuhan merancang pernikahan adalah hubungan SATU PRIA dengan SATU WANITA. Mat 19:4
  • Tuhan melarang perceraian
  • Kawin lagi (dengan ataupun tidak dengan perceraian) adalah sama dengan zinah. Mark 10:11-12

Pengajaran humanisme manusia:

  • kemerosotan moral dan tren gaya hidup modern membuat manusia memperbolehkan hubungan diluar nikah
  • agama duniawi membuat aturan-aturan yang memperbolehkan perceraian
  • agama duniawi membelokkan hal ini dengan mengijinkan SATU PRIA menikahi EMPAT WANITA, bahkan lebih!
  • agama duniawi mensahkan kawin lagi
  • manusia kini mengijinkan pria menikahi pria dan wanita menikahi wanita
  • bahkan, dunia gila ini bahkan menikahkan manusia dengan binatang!

3. Durhaka terhadap Tuhan

Hal yang sangat paling penting satu inilah yang (sengaja atau tidak) paling sering dilupakan, bahkan seringkali tidak diajarkan. Bahkan, agama duniawi-lah yang dengan sengaja mengabaikan hal ini dengan mengajarkan kiblat kepada yang botak ataupun menghadap yang kotak yang dibenci Tuhan.

Ada agama yang mengajar bahwa batu-batu tidak berbentuk itu adalah berhala, tetapi kalau sudah dibentuk menjadi seperti binatang atau seperti orang menjadi tidak apa-apa. Ada agama yang mengajar semua yang berbentuk patung itu berhala, tetapi kalau berbentuk kotak tidak apa-apa.

Dan, seperti sudah diberitahu sedikit pada point no.1, seringkali pengajaran agama duniawi tentang ‘menghormati orang tua‘ sangat terlalu berlebihan sehingga memposisikan orang tua menyamai bahkan melampaui Tuhan Yang Maha Tinggi.

Orang tua yang mengenal Tuhan Yang Maha Kudus seharusnya bisa mengajarkan hormat yang benar dan sepantasnya dan ketaatan didalam Tuhan dan tidak meninggikan diri menantang Tuhan Yang Benar dan Adil.

Efesus 6
1. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
2. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
3. supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
4. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

1Korintus 12:2. Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.

Efesus 2:3. Sebenarnya DAHULU kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan

1Samuel 15:22 Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 15:23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

Mazmur (40-7) Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. (40-8) Lalu aku berkata: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; (40-9) aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Amsal 21:1 Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. 21:2 Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati. 21:3 Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban. 21:4 Mata yang congkak dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa.  
21:21 Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan.

21:27 Korban orang fasik adalah kekejian, lebih-lebih kalau dipersembahkan dengan maksud jahat.

Persembahan yang sempurna

Ibrani 10:1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. 10:2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. 10:3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. 10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. 10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–. 10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. 10:7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” 10:8 Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–. 10:9 Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. 10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. 10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, 10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. 10:15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, 10:16 sebab setelah Ia berfirman: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, 10:17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” 10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Manusia Baru

Kolose 3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.